‎Raja yang tidak memahami makna hidup.

 


Di sebuah negeri bernama Satyapura, hiduplah seorang raja yang dikenal sangat bijak dalam kata-kata, namun rapuh dalam batin. Raja itu bernama Prabu Diratmaja, seorang penguasa yang naik takhta bukan karena kekuatan pedang, melainkan karena silsilah dan restu istana. Rakyat mengenalnya sebagai raja yang tenang, lembut, dan nyaris tak pernah marah. Namun justru dari ketenangan itulah, sebuah keretakan besar bermula.


‎Prabu Diratmaja memiliki satu kelemahan yang tak pernah dicatat dalam kitab sejarah kerajaan: ia lemah dalam syahwat, bukan dalam arti cabul, melainkan dalam makna paling mendasar—ia tidak mampu memberi kehangatan batin, kedekatan, dan rasa dicintai kepada keluarganya sendiri. Ia hidup bersama permaisuri dan selir-selir istana seperti seorang tamu yang tersesat, hadir secara fisik namun absen secara jiwa.

‎Permaisuri Ratna Dewi adalah perempuan cerdas dan setia. Pada awal pernikahan, ia berharap dapat membangun keluarga yang utuh, penuh dialog dan kasih. Namun malam-malam istana selalu sunyi. Raja lebih memilih menyendiri di ruang pustaka, menatap naskah kuno, atau bermeditasi tanpa arah. Bukan karena ia suci atau tercerahkan, melainkan karena ia takut menghadapi dirinya sendiri.

‎Ketidakmampuan raja membahagiakan istrinya menjelma menjadi jarak yang kian lebar. Ratna Dewi perlahan kehilangan senyumnya. Anak-anak kerajaan tumbuh tanpa figur ayah yang hangat. Mereka mengenal raja sebagai simbol, bukan sebagai manusia. Istana yang megah berubah menjadi rumah besar yang dingin.

‎Dan sebagaimana hukum alam yang tak tertulis: apa yang busuk di pusat kekuasaan, akan menyebar ke pinggiran.
‎Para menteri mulai saling bersaing tanpa arah. Karena raja tak punya gairah hidup, ia juga kehilangan ketegasan dalam memimpin. Keputusan-keputusan diambil bukan dari keyakinan, melainkan dari rasa takut mengecewakan. Ia menghindari konflik, bahkan ketika konflik itu perlu untuk keadilan.

‎Rakyat mulai merasakan dampaknya. Pajak naik tanpa alasan jelas, proyek istana mangkrak, hukum ditegakkan setengah hati. Negeri Satyapura tampak damai di permukaan, namun sesungguhnya sekarat dalam diam. Seperti keluarga raja, rakyat pun merasa tidak dicintai oleh pemimpinnya.
‎Seorang petani tua pernah berkata di pasar,

‎“Raja kita tidak kejam, tapi juga tidak hidup. Dan pemimpin yang tidak hidup, tak akan mampu menghidupi.”
‎Kata-kata itu menyebar pelan, seperti bisik angin. Tidak ada pemberontakan, tidak ada teriakan. Yang ada hanya kehilangan harapan.

‎Pada suatu malam, Prabu Diratmaja jatuh sakit. Bukan sakit tubuh, melainkan sakit jiwa. Ia bermimpi berjalan di istananya sendiri yang runtuh, melihat permaisuri menangis tanpa suara, anak-anaknya duduk membelakangi takhta, dan rakyat berdiri berjajar dengan mata kosong.

‎Dalam mimpi itu, seorang tua berpakaian sederhana berkata,
‎“Engkau gagal bukan karena lemah sebagai raja, tetapi karena engkau menolak menjadi manusia.”
‎Raja terbangun dengan napas terengah. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menangis. Bukan tangisan formal seorang penguasa, melainkan tangisan lelaki yang menyadari kehampaan dirinya. Ia sadar bahwa kelemahannya bukan sekadar soal syahwat, tetapi soal keberanian untuk mencintai, hadir, dan bertanggung jawab.

‎Namun penyesalan datang terlambat.
‎Permaisuri Ratna Dewi jatuh sakit karena kesepian yang berkepanjangan. Anak-anak kerajaan memilih meninggalkan istana untuk mencari hidup mereka sendiri. Rakyat tak lagi berharap pada pidato raja, hanya pada kerja keras masing-masing.

‎Prabu Diratmaja akhirnya turun takhta dengan sukarela. Ia memilih hidup sebagai pertapa di pinggiran negeri, mencoba memahami dirinya yang selama ini ia hindari. Negeri Satyapura pun belajar pelan-pelan bahwa pemimpin bukan hanya soal kecerdasan dan gelar, tetapi tentang daya hidup, keberanian mencinta, dan kemampuan memberi makna.

‎Sejarah mencatat Prabu Diratmaja bukan sebagai raja zalim, bukan pula sebagai pahlawan. Ia dicatat sebagai pelajaran:

‎bahwa raja yang tak mampu membahagiakan keluarganya, tak akan pernah mampu membahagiakan rakyatnya.

‎Karena negeri, sejatinya, hanyalah keluarga besar.
‎Dan kebahagiaan rakyat selalu bermula dari hati pemimpxfvhinnya.

Related Posts: